Internasional

Antartika Tambah 100 Miliar Ton Es dalam Setahun: Fenomena Langka di Dunia Sains

03 November 2025 | 05:02 WIB
Antartika Tambah 100 Miliar Ton Es dalam Setahun: Fenomena Langka di Dunia Sains
Terjadi anomali di Benua Antartika yang mengejutkan dunia sains. [John Weller/ASOC.ORG]

Setelah puluhan tahun mengalami pencairan sekaligus pengurangan jumlah es, Antartika kini menarik perhatian dunia dengan kabar mengejutkan. Benua es itu mendapatkan tambahan lebih dari 100 miliar ton es hanya dalam satu tahun.

rb-1

Fenomena ini menjadi peningkatan besar pertama setelah beberapa dekade didominasi laporan penyusutan es. Tidak heran jika kabar tersebut mencuri perhatian dan rasa penasaran publik.

Di media sosial, sejumlah unggahan bahkan mengklaim bahwa perubahan iklim telah “dibatalkan”. Beberapa postingan viral mengesankan bahwa penemuan ini meniadakan seluruh penelitian tentang perubahan iklim selama puluhan tahun. Namun para ilmuwan menegaskan bahwa narasi tersebut keliru dan mengabaikan konteks besar.

rb-3

Sebuah studi terbaru dalam Science China Earth Sciences mengungkap bahwa antara 2021 hingga 2023, Lapisan Es Antartika bertambah sekitar 108 gigaton per tahun.

Peningkatan ini terjadi akibat curah salju yang sangat tinggi di wilayah Antartika Timur. Salju tersebut terkonsentrasi di empat cekungan gletser yang sebelumnya dinilai rentan.

Para ilmuwan menekankan bahwa peningkatan jumlah es ini hanyalah anomali cuaca jangka pendek, bukan tanda pemulihan jangka panjang. Perubahan arah angin dan pola kelembapan atmosfer diduga menjadi pemicunya. Bahkan, pola itu mungkin juga berkaitan dengan perubahan iklim itu sendiri.

“Udara yang lebih hangat mengandung lebih banyak uap air, sehingga ketika suhu global meningkat, lebih banyak uap air tersedia untuk presipitasi di wilayah yang lebih dingin seperti Antartika,” demikian penjelasan ilmiah yang ditegaskan dalam laporan tersebut, dikutip dari ASOC, Senin (3/11/2025).

Penambakan es di Benua Antartika dari tahun ke tahun. [Kogia/Keith Ladzinski via ASOC.ORG]Penambakan es di Benua Antartika dari tahun ke tahun. [Kogia/Keith Ladzinski via ASOC.ORG]

Dengan kata lain, pemanasan global justru bisa meningkatkan curah salju di bagian tertentu Antartika. Fenomena ini merupakan gejala lain dari iklim yang berubah, bukan penyangkalannya.

Menariknya, penambahan es ini sementara menahan kenaikan permukaan laut sebesar sekitar 0,3 milimeter per tahun. Namun para pakar mengingatkan bahwa pengaruh ini hanya bersifat sementara. Ketika kondisi cuaca kembali normal, tren jangka panjang akan tetap mendominasi.

Jika melihat gambaran besar, data jangka panjang menunjukkan kenyataan yang jauh lebih mengkhawatirkan. Sejak 2002 hingga 2023, Antartika kehilangan sekitar 1,85 triliun ton es. Laju pencairan bahkan hampir dua kali lipat dalam dua dekade terakhir.

Artinya, satu tahun berlimpah salju tidak cukup untuk membatalkan puluhan tahun bukti perubahan iklim. Sama seperti satu hari hujan tidak menghapus kekeringan, satu tahun penambahan es tidak menghapus tren pemanasan global.

Benua Antartika yang esnya terus mencair setiap tahun. [Lewis Pugh Foundation via ASOC.ORG]Benua Antartika yang esnya terus mencair setiap tahun. [Lewis Pugh Foundation via ASOC.ORG]

“Ini seperti menunjuk hari yang dingin di musim semi dan menyatakan musim dingin telah kembali,” demikian analoginya.

Sementara itu, perbandingan gambar es laut yang viral di media sosial juga dinilai menyesatkan. Ilmuwan mengatakan bahwa mengambil dua tanggal acak, seperti 24 Desember 1979 dan 2024, “tidak menunjukkan tren apa pun”.

Data dari NSIDC menunjukkan es laut sempat naik hingga 2015, lalu anjlok drastis hingga mencatat rekor terendah pada 2023.

Terlepas dari itu, fenomena ini tetap memberi secercah harapan dan kesempatan bagi ilmuwan untuk mempelajari dinamika iklim Antartika yang kompleks. Penelitian terus dilakukan untuk memahami interaksi antara suhu, angin, curah salju, dan arus laut yang memengaruhi stabilitas benua es terbesar di dunia itu.

Tag Benua Antartika

Terkait