Biodata dan Agama Ghea Indrawari, Penyanyi yang Kelaparan di Konser Pali Sumsel
Penyanyi jebolan Indonesian Idol, Ghea Indrawari, mengaku mengalami kejadian kurang menyenangkan saat tampil di acara Festival Candi Bumi Ayu 2025 di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Sumatera Selatan.
Ia menyampaikan bahwa dirinya bersama tim sempat kelaparan karena tidak mendapatkan konsumsi yang layak dari pihak penyelenggara.
Baca Juga: Jejak Hidup Anti Puspitasari Palembang, sebelum Ditemukan Tewas di Hotel
Cerita itu dibagikan Ghea melalui unggahan di Instagram. Dalam salah satu video, terlihat ia berada di dalam mobil sambil berkeliling Kota PALI untuk mencari makanan yang masih buka. “Info makanan PALI yang masih buka jam segini, laper banget,” tulisnya di media sosial.
Makanan dari Panitia Tidak Layak Dikonsumsi
Ghea Indrawari mengaku kelaparan saat tampil di acara Festival Candi Bumi Ayu 2025 di Pali, Sumatera Selatan [Instagram @gheaindrawari]
Baca Juga: Pelaku Pembunuhan Wanita Hamil di Hotel Lendosis Palembang Akhirnya Ditangkap
Ghea juga memperlihatkan makanan yang diduga disediakan oleh panitia, namun menurutnya sudah tidak layak untuk dikonsumsi.
“Kasihan tim aku harus makan makanan yang enggak tahu dari kapan,” ucapnya.
Ia sempat meminta rekomendasi tempat makan dari para pengikutnya. Namun, sebagian besar lokasi yang disarankan ternyata sudah tutup.
“Katanya sudah pada tutup semua di PALI. Laper banget ini,” tulisnya lagi.
Tak lama kemudian, Ghea akhirnya mendapatkan nasi goreng telur untuk mengganjal perutnya. Ia mengaku tak menyangka akan kesulitan mencari makanan di tengah kesibukannya tampil dalam Festival Candi Bumi Ayu 2025.
Namun di balik viralnya momen tersebut, banyak yang kembali menyoroti siapa sebenarnya sosok Ghea Indrawari – mulai dari biodata, latar belakang keluarga, hingga agamanya.
Ibunda Jadi Tulang Punggung Keluarga
Ghea Indrawari tampil di acara Festival Candi Bumi Ayu 2025 di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (Pali), Sumatera Selatan. [Instagram @gheaindrawari]
Ghea tumbuh dalam lingkungan keluarga Muslim yang hangat dan sederhana. Ia dibesarkan oleh sang ibu, Endang Winarni, yang menjadi tulang punggung keluarga setelah berpisah dengan ayahnya saat Ghea masih duduk di bangku sekolah dasar.
Bersama adiknya, Rezza Rahmawan, Ghea menjalani hidup di kawasan sederhana di Singkawang Tengah.
Lingkungan tempat ia tumbuh bukanlah kawasan elit, namun penuh kehangatan. Di sebuah gang kecil di Jalan Kacang, Ghea mulai jatuh cinta pada musik bahkan sejak usia dua tahun.
Mikrofon karaoke dan lagu-lagu lawas menjadi teman masa kecilnya.