Jangan Kaget! Ini Alasannya Black Friday Disebut ‘Jumat Hitam’
Setiap menjelang akhir November, dunia ritel seperti memasuki musim “panen besar”. Papan promosi terpampang di berbagai sudut kota, sementara notifikasi diskon berdatangan tanpa henti.
Inilah momen yang dikenal sebagai Black Friday, hari yang selalu dinanti para pencinta belanja karena dianggap sebagai surga penawaran harga.
Namun, di balik euforia tersebut, sedikit orang yang benar-benar memahami bagaimana istilah Black Friday bermula. Mengapa hari yang identik dengan “hitam” justru menjadi simbol kegembiraan dalam dunia belanja? Perjalanan sejarahnya jauh lebih panjang dan kelam daripada yang dibayangkan.
Awal Mula: Lebih dari Sekadar Diskon Pasca Thanksgiving
Apa si Black Friday (Pexels)
Secara tradisional, Black Friday jatuh tepat sehari setelah perayaan Thanksgiving di Amerika Serikat. Banyak toko menjadikan hari ini sebagai pembuka musim belanja akhir tahun. Demi menarik pembeli, sejumlah pusat perbelanjaan membuka pintu lebih awal, bahkan sejak hari masih gelap.
Fenomena ini tidak lagi terbatas pada satu hari. Gelombang diskon sering berlanjut hingga Senin berikutnya, yang kini populer dengan sebutan Cyber Monday. Pada beberapa platform belanja online, rangkaian promo bahkan berlangsung selama satu pekan penuh, dikenal sebagai Cyber Week.
Meskipun awalnya merupakan budaya Amerika, daya tarik Black Friday kini merambah ke berbagai negara termasuk Indonesia, yang memanfaatkan momentum ini sebagai ajang promo akhir tahun besar-besaran.
Jejak Kelam di Balik Nama “Black Friday”
Pengertian Black Friday (Pexels)
Istilah Black Friday tidak selalu mengandung makna meriah seperti sekarang. Pada masa lalu, kata ini kerap digunakan untuk menandai peristiwa penuh kekacauan.
Salah satu insiden paling terkenal terjadi pada 24 September 1869 ketika harga emas di Amerika Serikat anjlok tajam akibat manipulasi pasar oleh dua investor besar, Jay Gould dan Jim Fisk.
Kejatuhan itu memicu kekacauan ekonomi, membuat banyak pelaku usaha bangkrut. Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Black Friday.
Pada tahun 1950-an, istilah ini kembali muncul dalam konteks berbeda. Para manajer pabrik menggunakan istilah itu untuk menggambarkan banyaknya pegawai yang absen setelah libur Thanksgiving, menyebabkan operasional perusahaan terganggu.
Philadelphia dan Kemacetan yang Melahirkan Istilah Modern
Makna Black Friday mulai berubah ketika polisi Philadelphia pada awal 1960-an memakai istilah tersebut untuk menyebut hari penuh kemacetan ekstrem.
Pada Jumat setelah Thanksgiving, kota dipenuhi wisatawan dan warga lokal yang berbondong-bondong berbelanja sambil menantikan pertandingan football Angkatan Darat vs Angkatan Laut.
Lalu lintas yang kacau, kerumunan padat, hingga meningkatnya laporan kriminal kecil membuat hari itu menjadi mimpi buruk bagi aparat keamanan. Karena kesan negatifnya, pelaku ritel sempat mencoba mengganti istilah itu menjadi Big Friday, namun upaya tersebut tidak bertahan lama.
Pada dekade 1980-an, makna istilah ini akhirnya diredefinisi oleh pelaku bisnis ritel. Mereka menghubungkannya dengan dunia akuntansi, di mana angka merah melambangkan kerugian dan tinta hitam menunjukkan keuntungan.
Para pedagang kemudian mempromosikan Black Friday sebagai momen ketika bisnis kembali “sehat” beralih dari merah ke hitam.
Transformasi makna inilah yang kemudian menjadikan Black Friday identik dengan diskon besar-besaran dan peningkatan penjualan tahunan.
Black Friday di Era Digital: Tradisi yang Terus Berevolusi
Dengan berkembangnya e-commerce, budaya Black Friday mengalami pergeseran besar. Jika dulu orang harus datang ke toko, kini promosi bisa diakses dengan mudah melalui ponsel atau komputer.
Banyak orang tidak lagi harus mengantre panjang atau berdesakan demi mendapatkan produk incaran.
Tren ini turut diadopsi di Indonesia. Meski tidak merayakan Thanksgiving, masyarakat Indonesia tetap menikmati potongan harga yang disediakan marketplace maupun pusat perbelanjaan.
Menjelang akhir November, berbagai brand berlomba-lomba menggelar promo besar, menjadikan periode ini salah satu momen paling ramai dalam dunia ritel nasional.
Black Friday kini bukan sekadar hari belanja. Ia telah menjadi simbol global tentang bagaimana budaya konsumen, teknologi, dan strategi pemasaran bersatu menciptakan fenomena yang terus berkembang setiap tahun.