Penertiban Hutan Lindung TNTN yang Berubah Jadi Kebun Sawit Dapat Perlawanan
Insiden terjadi di Kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) Riau. Sekelompok warga merusak plang nama TNTN. Bahkan kelompok orang ini dengan berani mengusir prajurit TNI yang bertugas mengamankan hutan konservasi.
Dilansir mediacenter.riau,aksi ini menunjukkan peningkatan eskalasi konflik antara masyarakat dan aparat keamanan terkait isu penertiban kawasan hutan yang dilindungi negara itu. Kawasan yang tidak boleh diganggu itu saat ini menjadi kebun sawit warga, bahkan ada cukong atau pengusaha sawit berskala besar.
Menanggapi situasi yang sangat tegang, aparat keamanan di TNTN memilih untuk mundur dan tidak melakukan pencegahan terhadap aksi perusakan tersebut. Kapendam XIX Tuanku Tambusai, Letkol MF Rangkuti. menegaskan,tindakan mundur ini merupakan sebuah strategi untuk meredakan ketegangan.
Baca Juga: Lagi, Gajah Ditemukan Mati dalam Kondisi Mengenaskan Kali Ini Terjadi di Taman Nasional Tesso Nilo
"Prajurit mundur untuk menghindari bentrokan fisik yang dikhawatirkan akan terjadi mengingat kondisi emosi warga yang sudah memuncak," jelas Rangkuti.
Keputusan untuk mundur dan bersikap pasif ini juga sekaligus menjelaskan rekaman video yang beredar luas, di mana petugas terlihat tidak berupaya mencegah perusakan plang nama. Letkol Rangkuti memaparkan bahwa sengaja tidak ada upaya pencegahan agar tidak terjadi bentrok dengan warga, petugas memilih mundur sambil tetap berdialog.
"Itu memang untuk menghindari konflik lah intinya dengan masyarakat," tegasnya.
Baca Juga: Diduga Sengaja! Polisi Selidiki Terbakarnya Habitat Harimau Sumatera dan Gajah di TNTN
Kapendam XIX Tuanku Tambusai, Letkol MF Rangkuti.[Foto: mediacenter.riau]Pascaaksi perusakan plang dan pengosongan sementara pos-pos pengamanan, Kapendam memastikan bahwa situasi di lokasi sudah kembali tenang dan kondusif. "Masyarakat yang melaksanakan aksi juga langsung membubarkan diri (setelah petugas meninggalkan pos)," ujar Rangkuti.
Ia juga menambahkan bahwa peristiwa pengusiran dan perusakan ini adalah yang pertama kali terjadi selama proses penertiban kawasan hutan berlangsung.
Meskipun sempat terjadi pengosongan pos, Kodam memastikan bahwa personel pengamanan di kawasan TNTN telah ditambah jumlahnya. Pos-pos yang sebelumnya sempat ditinggalkan oleh prajurit kini telah diduduki kembali oleh aparat keamanan.
Peningkatan personel ini menunjukkan komitmen Kodam untuk melanjutkan pengamanan kawasan, meskipun menghadapi tantangan dan konflik terbuka dari masyarakat.
Sudah Dialog tapi Gagal Membuahkan Hasil Diharapkan
Sebenarnya, upaya dialog sudah dilakukan antara massa pendemo dan para pemangku kepentingan (stakeholder) yang diadakan di Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau beberapa waktu sebelumnya, namun tidak membuahkan hasil yang diharapkan.
Kegagalan negosiasi tersebut tampaknya memicu kemarahan warga, mendorong mereka untuk kembali ke TNTN dan melancarkan aksi unjuk rasa serta pengusiran terhadap aparat.
Menurut Kapendam XIX Tuanku Tambusai, Letkol MF Rangkuti, sebagian besar massa pendemo kembali ke kawasan TNTN setelah melakukan demonstrasi di Kejati Riau pada Kamis siang (20/11/2025).
Rombongan massa tiba di Pos 10 sekitar pukul 23.00 WIB malam hari, langsung menuntut agar pasukan TNI yang bertugas di sana segera meninggalkan pos. "Massa meminta agar pasukan yang di sana (TNTN) meninggalkan pos tersebut," kata Rangkuti, Rabu (26/11/2025).
Setelah berhasil meminta pasukan mundur dari Pos 10, massa kemudian melanjutkan aksinya ke Pos 9 dengan tuntutan yang sama, yakni meminta prajurit yang berjaga untuk segera meninggalkan lokasi pengamanan.