Bencana Banjir Sumatera, Raja Juli Antoni Evaluasi Total Tata Kelola Hutan
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan duka mendalam atas bencana banjir yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Ia menegaskan bahwa musibah ini bukan hanya menyisakan luka bagi masyarakat, namun juga menjadi peringatan keras mengenai pentingnya memperbaiki tata kelola hutan dan lingkungan.
“Bencana yang terjadi bukan hanya meninggalkan kesedihan, tetapi mengingatkan kita bahwa ada sesuatu yang harus dibenahi dalam cara kita menjaga hutan dan lingkungan,” ujar Raja Juli Antoni dalam keterangan dikutip dari instagramnya Minggu 30 November 2025.
Baca Juga: Pengedar Sabu di Perkampungan Deli Serdang Dicokok
Ia juga mengirimkan doa terbaik untuk seluruh korban serta berharap wilayah terdampak dapat segera pulih.
Banjir merendam rumah warga di Sumatera. [Istimewa]Raja Juli Antoni mengungkapkan bahwa selama dua hari berada di Provinsi Riau, pihaknya telah memulai evaluasi langsung di lapangan terkait pengelolaan hutan dan kawasan konservasi.
Di Kuantan Singingi, Kementerian Kehutanan menyerahkan SK Hutan Adat sebagai bentuk pengakuan negara terhadap komunitas adat yang dinilai memiliki kearifan dalam menjaga kelestarian hutan.
Baca Juga: Pak Kapolda Tolong! Pemuka Agama di Medan Resah Maraknya Begal, 3 Ustaz Jadi Korban
Sementara itu, di Taman Nasional Tesso Nilo, Menteri meninjau proses restorasi habitat Gajah Sumatera, termasuk individu gajah Domang dan kelompoknya, untuk memastikan ruang hidup satwa dilindungi tersebut tetap aman dan terjaga.
Kunjungan juga dilakukan ke PLG Sebanga, di mana ia melihat langsung perlunya perbaikan menyeluruh dalam pengelolaan kawasan guna mencegah kerusakan lebih besar di masa mendatang.
Raja Juli Antoni menegaskan bahwa langkah-langkah yang dilakukan merupakan tahap awal dari proses panjang perbaikan tata kelola hutan di Indonesia.
“Ini baru permulaan. Evaluasi sedang berjalan, kerja besar sedang dimulai, dan negara hadir untuk memastikan tragedi serupa tidak terulang,” tegasnya.
Hingga 29 November 2025 malam, BNPB melaporkan total 303 korban jiwa akibat banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara (Sumut), serta Sumatera Barat (Sumbar), dengan rincian 47 di Aceh, 166 di Sumut, dan 90 di Sumbar.
Bencana banjir yang turut membawa gelondongan kayu. [Istimewa]- Aceh: 47 meninggal dunia, dengan penambahan di Aceh Tengah (16 jiwa), Bener Meriah (12 jiwa), Aceh Tenggara (7 jiwa), serta wilayah lain seperti Pidie Jaya dan Bireuen; data masih dikonsolidasikan.
- Sumatera Utara: 166 meninggal dunia (bertambah 50 dari hari sebelumnya), 143 hilang di delapan kabupaten/kota seperti Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Humbang Hasundutan.
- Sumatera Barat: 90 meninggal dunia (penambahan signifikan di Agam 74 jiwa), 85 hilang, serta 10-17 luka-luka di Padang, Padang Panjang, dan Pasaman Barat.
Selain korban jiwa, 279 orang masih hilang secara keseluruhan, ribuan mengungsi, dan akses ke wilayah seperti Sibolga terputus.
Operasi pencarian oleh Basarnas dan satgas gabungan terus berlangsung, dengan Sumut sebagai provinsi paling parah terdampak.