BRIN Kenalkan Helm Limbah Sawit: Ringan, Kuat dan Tahan Benturan Dibanding Termoplastik
Selama ini industry otomotif dan pelindung kepala masih sangat tergantung pada pada bahan baku impor seperti serat sintetik dan polimer plastik. Padahal Indonesia memiliki peluang untuk mengadakan sendiri bahan yang dibutuhkan untuk membuat helm. Tidak usah impor! Jawabannya ada pada limbah Tandan Kosong Kelapa Sawit (TKKS).
Periset Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan (PR EMK) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Sigit Setiawan, dalam paparannya menyebut, helm berbahan biokomposit sawit terbukti lebih kuat, ringan, dan tahan benturan dibanding helm termoplastik standar di pasaran
Indonesia, paparnya, menghasilkan sekitar 47 juta ton TKKS per tahun. Namun industri otomotif dan pelindung kepala masih sangat bergantung pada bahan baku impor seperti serat sintetik dan polimer plastik. Seiring dengan proyeksi permintaan nasional sebesar 10,5 juta unit helm per tahun, ia mengusulkan skema kebijakan afirmatif berupa Program Sejuta Helm Biokomposit.
Baca Juga: Regulasi Wajibkan Gedung Bertingkat Pasang <i>Water Mist</i> Digodok
“Simulasi riset kebijakan menunjukkan jika sepuluh persen produksi helm nasional (sekitar 1 juta unit) menggunakan bahan baku biokomposit sawit, Indonesia berpotensi mengurangi ketergantungan impor bahan baku senilai Rp110,4 miliar dan menciptakan permintaan bahan baku biokomposit domestik sebesar Rp21 miliar,” ungkapnya, pada Macroeconomics and Finance Talks (Mafin Talks) ke-27, bertajuk “Addressing Palm Waste to Promote Inclusive Green Growth Through Biocomposites”, dilansir laman BRIN.
Foto: BRINDampak Ekonomi
Dampak ekonomi lanjutannya, ujar Sigit, diproyeksikan meningkatkan nilai tambah bruto sekitar Rp39,8 miliar, serta meningkatkan upah tenaga kerja sekitar Rp20 miliar, terutama di provinsi sentra sawit seperti Riau, Kalimantan Tengah, dan Sumatra Utara.
Baca Juga: Rawan Gempa, BRIN Petakan Sesar dari Ujung Kulon hingga Banyuwangi
Kepala Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan (PR EMK) BRIN, Zamroni Salim, menegaskan Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia menghadapi tantangan ekologis signifikan akibat jutaan ton limbah sawit yang dihasilkan setiap tahun. Jika tidak dikelola dengan baik, limbah tersebut hanya akan menjadi beban lingkungan.
“Fokus diskusi Mafin Talks kali ini adalah bagaimana kita menghadapi tantangan besar limbah sawit tersebut. Bagaimana penanganannya bisa bermanfaat, mendukung inklusivitas, sekaligus memberikan kontribusi positif bagi perekonomian nasional,” ujar Zamroni.
CEO PT Intersisi Material Maju, Andika Krisnawati, mengajak masyarakat mengubah paradigma terhadap limbah sawit dari sekadar beban menjadi aset strategis. Dengan TKKS menyumbang 23 persen dari tandan buah segar, ia menilai biokomposit sawit mampu menjawab sekaligus tantangan lingkungan, ekonomi, dan industrialisasi.
Biokomposit Sawit sudah Digunakan di Berbagai Produk Industri
Bahan biokomposit sawit telah berhasil digunakan untuk berbagai produk industri, mulai dari helm berstandar SNI hingga rompi antipeluru. Namun, Andika mengakui sejumlah tantangan masih mengemuka, seperti biaya molding yang tinggi dan rendahnya edukasi pasar mengenai produk eco-friendly.
Ilustrasi [Foto: istimewa]Karena itu, ia menegaskan perlunya kolaborasi erat dengan BRIN untuk membangun roadmap ekonomi sirkular biomassa sawit termasuk riset lanjutan, pelatihan UMKM, dan pendirian pilot plant desa berbasis biokomposit.
“Biokomposit adalah katalisator hilirisasi dan alat pemberdayaan UMKM yang krusial, membuka jalan bagi terwujudnya pertumbuhan hijau yang inklusif di Indonesia,” tegas Andika.
Pemanfaatan TKKS sebagai Bahan Baku Biokomposit Bernilai Tambah Tinggi
Sementara itu, Kepala Riset dan Pengembangan PT Intersisi Material Maju, Siti Nikmatin, turut memaparkan hasil inovasi puluhan tahunnya mengenai pemanfaatan TKKS sebagai bahan baku biokomposit bernilai tambah tinggi. Riset tersebut mendorong substitusi serat sintetis dan plastik impor dengan serat alam TKKS, sekaligus memperkuat kemandirian bahan baku nasional.
Implementasi terkuat inovasi ini tercermin pada produksi helm motor berbahan biokomposit bermerek green composite helmet (GCH) yang terbukti memiliki daya redam benturan lebih baik, sehingga dapat meningkatkan keselamatan pengendara. Selain helm, riset untuk substitusi Kevlar pada rompi antipeluru kini juga menunjukkan prospek industri yang menjanjikan.